Tiga Bulan Kekeringan, Sumur Warga Plumbungan Pati Berubah Asin

News 01 Oct 2026 18:42 • 3 min read • 46 views • By Dwi S

Share berita ini

Tiga Bulan Kekeringan, Sumur Warga Plumbungan Pati Berubah Asin
PATI — Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Pati mulai berdampak serius terhadap kebutuhan air bersih warga. Di Desa Plumbungan, K...

PATI — Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Pati mulai berdampak serius terhadap kebutuhan air bersih warga. Di Desa Plumbungan, Kecamatan Gabus, sumur warga menyusut hingga airnya berubah asin selama musim kemarau 2026.

 

Kondisi tersebut telah berlangsung sekitar tiga bulan. Warga mengaku kesulitan mendapatkan air yang layak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

Ketua RT 01 RW 01 Desa Plumbungan, Sukawi, mengatakan perubahan kondisi air sumur terjadi sejak hujan tidak lagi turun dalam waktu cukup lama.

 

“Sekitar tiga bulanan. Air sumur juga berubah sejak tidak ada hujan sama sekali, berubah asin. Tapi kalau ada hujan air di sini rasanya normal,” kata Sukawi.

 

Menurutnya, air sumur yang berubah asin membuat warga tidak bisa mengandalkannya untuk seluruh kebutuhan rumah tangga. Air tersebut bahkan tidak lagi nyaman digunakan untuk mencuci pakaian dan saat ini lebih banyak dimanfaatkan warga untuk mandi.

 

Untuk memenuhi kebutuhan lainnya, warga membeli air bersih secara mandiri. Harga air mencapai sekitar Rp140 ribu hingga Rp150 ribu untuk satu tangki dengan kapasitas sekitar 5.000 liter.

 

“Pakai bantuan kalau ada. Kalau nggak ada masyarakat beli. Alhamdulillah hari ini ada bantuan,” ungkapnya.

 

Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Bidpropam Polda Jawa Tengah. Pada Selasa (29/9/2026), bantuan air bersih disalurkan ke tiga desa di Kecamatan Gabus, yakni Desa Plumbungan, Pantirejo, dan Gebang.

 

Panit Lidik Paminal Bidpropam Polda Jateng, AKP Aris, mengatakan pihaknya menyalurkan bantuan sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat yang terdampak kekeringan.

 

“Kami memberikan bantuan di Desa Plumbungan, Pantirejo, dan Gebang. Semoga masyarakat antusias,” kata AKP Aris.

 

Sebanyak enam tangki air bersih didistribusikan dalam kegiatan tersebut. Masing-masing desa mendapatkan dua tangki dengan kapasitas sekitar 8.000 liter per tangki.

 

“Ada enam tangki, kapasitas delapan ribu liter per tangki. Semoga bisa memberikan bantuan yang memadai,” ujarnya.

 

Sementara itu, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati per 25 September 2026, sedikitnya 45 desa telah terdampak kekeringan.

 

Kepala Pelaksana BPBD Pati, Martinus Budi Prasetya, mengatakan wilayah terdampak tersebar di 10 kecamatan. Sejumlah desa juga mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

 

“Ada tiga desa yang baru di wilayah Kecamatan Batangan, Desa Pecangaan, Desa Kayusiwalan dan Desa Tlogomojo. Sedangkan di wilayah Pati sebelah utara, di wilayah Kecamatan Dukuhseti ada Desa Ngagel yang sudah kita atensi. Tetapi infonya, Desa Bakalan pun sudah mulai kesulitan air bersih,” terang Martinus, Jumat (25/9/2026).

 

Martinus menambahkan, jumlah desa terdampak masih berpotensi bertambah. Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi panjangnya musim kemarau dan kondisi iklim yang terjadi tahun ini.

 

Dengan kondisi tersebut, kebutuhan distribusi air bersih menjadi semakin penting, terutama bagi wilayah yang sumber air warganya mulai mengering atau mengalami perubahan kualitas seperti yang terjadi di Desa Plumbungan.

 

Warga berharap bantuan air bersih dapat terus dilakukan selama kondisi kekeringan masih berlangsung, sehingga kebutuhan dasar masyarakat tetap dapat terpenuhi.

 

(Dwi.s)

FAKTA LIDIK

Recent Articles

Popular Articles

Chat with us on WhatsApp